Istilah “Pollyana” kini lazim dipakai untuk merujuk karakter seseorang yang begitu optimis dan selalu bisa menemukan sesuatu untuk
disyukuri, apa pun situasi yang sedang dihadapi. Istilah ini lahir dari novel
berjudul sama tentang anak perempuan berkarakter serupa. Ingin
tau ceritanya? Ini dia.
Alkisah, di sebuah kota kecil bernama Beldingsville,
Vermont, hiduplah sekelompok warga yang tidak berbahagia. Di tengah kota yang muram
inilah Pollyana datang. Pollyana Whittier adalah anak berusia 11 tahun yang baru
saja menjadi yatim piatu. Ibunya meninggal sejak ia masih kecil, dan kini
ayahnya, John Whittier, menyusul sang bunda ke alam baka.
Di Beldingsville, Pollyana masih memiliki kerabat,
yakni adik dari almarhumah ibunya, Miss Polly Harrington. Miss Polly adalah
wanita berusia 40 tahun yang hidup sendiri, dengan hanya ditemani
pelayan-pelayannya. Kedatangan Pollyana mengubah Miss Polly maupun kota
Beldingsville.
Pollyana
memperkenalkan permainan bernama “The Glad Game” kepada warga Beldingsville.
Aturan dari permainan ini sederhana saja: “Temukan sesuatu untuk disyukuri
dalam segala kondisi – apa pun yang terjadi.”
“It'll be just lovely for you to play -- it'll be so hard. And there's so much more fun when it is hard!"
Permainan ini diciptakan oleh ayah Pollyana. Waktu masih kecil, Pollyana pernah berharap mendapatkan hadiah natal berupa boneka dari dalam kotak amal. Namun, kemudian ia mendapati bahwa di dalam kotak itu hanya ada sepasang tongkat ketiak untuk membantu penyandang cacat berjalan. Saat itulah, ayah Pollyana mengajarkan pada putrinya untuk melihat sisi baik dari segala hal. Hal positif dari tongkat ketiak, misalnya, adalah bahwa dia tidak perlu menggunakannya karena punya kedua kaki yang sehat!
“He said if
God took the trouble to tell us eight hundred times [in the Bible] to be
glad and rejoice, He must want us to do it - SOME."
Di rumah bibinya, Pollyana menerapkan “The Glad Game” ajaran
sang ayah. Ketika Bibi Polly menempatkannya di kamar loteng yang pengap, tanpa
karpet maupun lukisan, Pollyana bersyukur karena bisa mengintip pemandangan
alam yang indah dari sebuah jendela kecil. Ketika ia dihukum karena terlambat
makan malam dengan diminta makan roti dan susu di dapur bersama pelayan,
Pollyana bersyukur karena ia suka roti dan susu.
Perlahan-lahan, Pollyana menularkan optimismenya kepada
warga kota Beldingsville yang “lesu”. Dua orang yang ia ubah secara drastis
adalah John Pendleton dan bibinya sendiri. John Pendleton adalah seorang pria muram yang kerap dilihat
Pollyana saat ia berjalan-jalan ke kota. Dengan ceria, Pollyana selalu menyapa
pria tersebut. Kedekatan Pollyana dan Mr. Pendleton semakin kokoh ketika gadis
itu menemukan Mr. Pendleton dalam kondisi patah kaki di tengah hutan. Pollyana
segera memanggil dokter, dan ia rajin membesuk sampai pria tersebut pulih.
Di kemudian hari, Mr. Pendleton mendapati bahwa Pollyana
adalah putri dari wanita yang ia cintai di masa lalu. Di masa mudanya, Jennie,
ibu Pollyana, menolak lamaran Pendleton dan memilih untuk menikahi pendeta
miskin dan pindah dari kota tersebut. Mengetahui hal ini, Mr. Pendleton
bermaksud untuk mengadopsi Pollyana. Namun, Pollyana melihat anak lain yang
lebih membutuhkan rumah: Jimmy Bean, bocah yatim-piatu, yang akhirnya diangkat
anak oleh Mr. Pendleton.
"Instead of always harping on a man's faults, tell him of his virtues.
Try to pull him out of his rut of bad habits. Hold up to him his better
self, his REAL self that can dare and do and win out!"
Namun, kemalangan tak luput menimpa si gadis ceria.
Karakternya yang optimis diuji ketika suatu hari ia tertabrak mobil dan tidak
bisa berjalan lagi. Mau tak mau, semangat hidup Pollyana sempat surut. Ia harus
berbaring di ranjang, dan untuk pertama kalinya, Pollyana tidak bisa melihat
sesuatu untuk disyukuri dari kondisinya.
Ketika itulah, warga kota bergantian datang menjenguknya, dan memberi tahu Pollyana bahwa kehadirannya di kota itu telah membuat hidup mereka menjadi lebih baik karena kini mereka menjadi orang yang lebih ceria. Akhirnya, Pollyana memutuskan ia masih bisa bersyukur karena setidaknya ia masih punya kaki.
Ketika itulah, warga kota bergantian datang menjenguknya, dan memberi tahu Pollyana bahwa kehadirannya di kota itu telah membuat hidup mereka menjadi lebih baik karena kini mereka menjadi orang yang lebih ceria. Akhirnya, Pollyana memutuskan ia masih bisa bersyukur karena setidaknya ia masih punya kaki.
“There is something about everything that you can be glad about, if you keep hunting long enough to find it.”
Sang bibi yang kaku mengalami perubahan drastis saat melihat
dampak positif yang dibawa Pollyana bagi warga kota Beddingsville. Ia sadar
bahwa ia sebenarnya menyayangi keponakannya. Miss Polly pun menjadi sosok yang
lebih luwes dan fleksibel memandang segala masalah. Bahkan, wanita itu akhirnya
bisa menerima kehadiran seorang pria bernama Dr. Chilton, di rumah maupun di
hatinya.
Pollyana hanya seorang gadis kecil, tapi ia punya kekuatan
untuk mengubah sebuah kota yang suram menjadi cerah-ceria. Karena itulah, meski
Pollyana diterbitkan tepat satu abad lalu (tahun 1913), novel karya Eleanor H. Porter ini
masih menjadi favorit dalam dunia sastra anak.
"People radiate what is in their minds and in their hearts. If a man
feels kindly and obliging, his neighbors will feel that way, too, before
long.But if he scolds and scowls and criticizes—his neighbors will
return scowl for scowl, and add interest! … When you look for the bad,
expecting it, you will get it. When you know you will find the good—you
will get that…"
Novel ditutup dengan pernikahan Bibi Polly dan Dr. Chilton,
dan Pollyanna menjalani terapi untuk bisa berjalan lagi. Optimisme memang
berbuah manis!
“Just breathing isn't living!” -- Pollyana.
No comments:
Post a Comment