Sunday, May 26, 2013

Happiness Lessons from The Lake Stone Story

“If the only prayer you said in your whole life was ‘thank you,’ that would suffice.” 
-- Meister Eckhart.

Di minggu ini, saya akan membagikan sebuah cerita yang dibagikan teman saya via broadcast message BBM. Berikut saya tuliskan kembali cerita inspiratif yang saya terima tersebut.

Alkisah, terdapat danau indah yang sekelilingnya terdapat banyak batu-batuan. Di dekat danau terdapat juga papan peringatan dengan tulisan sebagai berikut:

YANG MENGAMBIL BATU 
AKAN MENYESAL. 
YANG TIDAK MENGAMBIL BATU 
JUGA AKAN MENYESAL.

Merasa penasaran dengan peringatan di papan, sebagian pengunjung tertarik untuk mengambil beberapa butir batu guna melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa lainnya tidak terlalu menggubrisnya. Mereka tidak mengambil batu-batu dan lebih tertarik menikmati segarnya air di danau itu.

Setelah kembali ke Eropa, mereka menyuruh ahli batu untuk memeriksa batu-batu yang mereka bawa. Ternyata batu-batu itu adalah sejenis Safir yang dari luar tampak jelek, tetapi di dalamnya merupakan permata yang sangat indah dan mahal harganya.

Pengunjung yang tidak membawa batu jadi menyesal karena tidak membawanya. Tetapi, yang membawa pun menyesal karena tidak membawa lebih banyak.

“Do not spoil what you have by desiring what you have not; remember that what you now have was once among the things you only hoped for.”
-- Epicurus.

Bukankah hidup manusia serupa seperti cerita di atas?

Dari cerita di atas terdapat dua pelajaran mengenai kebahagiaan yang kiranya dapat kita renungkan.

Pertama, manusia terkadang layaknya pengunjung yang membawa batu. Kita diberikan kehidupan yang sangat berharga. Namun, bukankah kita seringkali kurang menghargai kehidupan yang kita miliki? Padahal hidup ini begitu bernilai. Jauh lebih bernilai daripada batu-batu permata.

Bukannya mensyukuri batu-batu permata yang telah mereka miliki, malahan mereka tidak berbahagia dikarenakan permata-permata yang tidak mereka miliki. Kebahagiaan seharusnya lebih berwujud contentment: rasa puas diri dan bersyukur. Bukan kenikmatan yg menuju pada kemelekatan.

Kalau kesenangan atau kenikmatan, setelahnya kita mau dan mau lagi. Kalau bahagia, setelahnya kita merasa cukup. Dalam keadaan-keadaan yang bagi kita terasa tidak menyenangkan, kiranya kita harus belajar untuk mensyukuri hal-hal yang telah kita miliki.

“The more I understand the mind and the human experience, the more I begin to suspect there is no such thing as unhappiness; there is only ungratefulness.”
-- Steve Maraboli.

Akan tetapi, jangan jadikan rasa puas diri itu alasan untuk malas mengejar tingkat kehidupan yang lebih baik bagi kita. Apabila kita malas, maka kita ibaratnya pengunjung yang tidak membawa pulang batu-batu danau. Kita akan menyesal karena tidak menjalani hidup kita dengan maksimal. Itulah pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita ini.

Meski terdengar agak kontra dengan konsep puas diri, namun menjalani hidup dengan maksimal ini memiliki konteks yang berbeda. Pelajaran kedua ini mengingatkan agar kita jangan sampai terjebak dalam pembenaran akan sifat malas. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal karena tidak menjalani kehidupan kita dengan maksimal. Kita harus bekerja dengan maksimal, mengasihi keluarga dengan maksimal, berkarya bagi sesama dengan maksimal, belajar dengan maksimal. Jangan setengah-setengah.

"Under any circumstance, simply do your best, and you will avoid self-judgment, self-abuse and regret."
-- Miguel Angel Ruiz.


Intinya ketika kita sudah mengusahakan yang terbaik selama hidup ini, maka kita tidak perlu lagi menyesal di kemudian hari. Usahakan yang terbaik selama kesempatan itu masih ada. Berjuanglah terus dan usahakanlah yang terbaik.

No comments:

Post a Comment