Showing posts with label Purpose of Live. Show all posts
Showing posts with label Purpose of Live. Show all posts

Monday, November 30, 2015

Resolusi 2016: Toko Ban Online dan Blog Digital Marketing Terbesar di Indonesia


Waktu rasanya berjalan sangat cepat. Rasanya belum terlalu lama kala terakhir menulis posting untuk blog ini. Ternyata sejak posting terakhir hingga hari ini, hampir satu setengah tahun telah terlewati. Sejak setahun terakhir, perubahan terbesar dalam kehidupan saya adalah akhirnya saya merasakan resign dan berpindah pekerjaan. Perubahan ini semakin terasa dikarenakan saya berpindah dari pekerjaan lama saya sebagai banker ke pekerjaan baru di industri e-commerce ban mobil.

Sunday, June 8, 2014

Mindful Living Manifesto

Pagi ini, seorang teman bertanya kepada saya apakah dapat mengirimkan cover picture yang saya gunakan di akun Path saya. Menurutnya gambar tersebut sangat inspiratif. Berikut gambar yang dimaksud oleh teman saya. Hal ini membuat saya jadi ingin tahu lebih banyak mengenai asal usul dari tulisan tersebut. Sebelumnya saya pernah membaca bahwa tulisan tersebut adalah pernyataan visi dari sebuah perusahaan start-up di luar. Akan tetapi, saya tidak pernah lebih lanjut mencari tahu perusahaan seperti apakah yang membuat pernyataan inspiratif ini?

Dari hasil pencarian saya di Google, saya menemukan bahwa tulisan tersebut merupakan manifesto dari perusahaan bernama HOLSTEE. Holstee adalah perusahaan yang berfokus pada desain dan printing poster, kartu, dan bingkai yang menginspirasi orang-orang agar hidup secara sadar dan penuh (mindful living). Manifesto sendiri dapat diartikan sebagai pernyataan tertulis yang memuat mengenai kebijakan, tujuan yang hendak dicapai, dan keyakinan dari seseorang atau sebuah kelompok.

Saturday, June 7, 2014

Nudge The World to A Happier Place

Judul pada posting saya kali ini secara tidak lazim merupakan visi dari sebuah perusahaan bernama Zappos.com. Zappos sendiri merupakan online shop sepatu terbesar di dunia. Zappos.com didirikan oleh Tony Hsieh. Sekilas saya ceritakan mengenai perjalanan hidup seorang Tony Hsieh.

Ketika lulus kuliah, Tony diterima bekerja di Oracle, dengan gaji yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan pekerjaan yg didapat teman-temannya. Jam kerja Tony di Oracle terasa sangat longgar dan monoton. Hal ini malahan membuat Tony mengundurkan diri dari Oracle setelah bekerja selama lima bulan. Tony kemudian memulai bisnis pertamanya sebagai perusahaan web developer.

Life is Brief, and then You Die, You Know?

Belakangan saya sedang gandrung dengan akun social networking PATH. Sepintas Path tidak berbeda jauh dengan Instagram dan Facebook. Hal yang menarik dari Path bagi saya secara  pribadi adalah tingkat intimasi dan tujuan utamanya sebagai media untuk menyimpan dan berbagi momen2 / pengalaman hidup yang kita jalani.

Sebelumnya, jumlah teman pada Path dibatasi maksimal sebanyak 150 orang. Hal ini ditetapkan berdasarkan penelitian yang menyatakan bahwa seseorang hanya mungkin mengelola lingkaran pertemanan yang intens dengan tidak lebih dari 150 orang pada satu periode waktu. Akan tetapi, Path saat ini telah memungkinkan untuk menambah jumlah teman sampai dengan 500 orang. Hal ini agak mengecewakan dan saya rasa tentunya tidak lepas dari kepentingan bisnis.

Tuesday, November 26, 2013

Stay Authentic: Confessions of The Broken Generation

Sewaktu masa sekolah, kesuksesan seseorang dinilai dari nilai-nilai yang dia dapat.
Selewat masa sekolah, kesuksesan seseorang dinilai dari kekayaan yang dia miliki.
Semua orang mendambakan kebahagiaan.
Tetapi apa benar kebahagiaan hanya datang setelah kekayaan?
Kalau jawabannya tidak, lalu kenapa Anda masih mencari kekayaan?
Cari kebahagiaan mulai sekarang...


Kehidupan manusia saat ini sangat mengerikan. Anak-anak sekolah dinilai dari nilai ujian yang didapat. Orang dewasa dinilai dari kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan.

Serangkaian proses cuci otak manusia ini dimulai dari sistem pendidikan yang menuntut agar semua murid hebat dalam semua mata pelajaran. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu memiliki bakat dan minat masing-masing. Wajar kalau seseorang memiliki prestasi yang minim untuk hal yang bukan menjadi minat dan bakatnya. Tuntutan untuk berprestasi dalam mata pelajaran yang tidak disukai menyebabkan anak menjadi benci kepada pelajaran non-favoritnya yang kemudian bertumbuh menjadi ketidaksukaan untuk belajar dan sekolah. Antusiasme dan semangat belajar mereka telah dibunuh.

Idealnya pada masa sekolah dasar, anak memang diberi kurikulum general untuk memancing dan melihat minat atau bakat dari murid. Yang lebih penting lagi adalah orientasi terhadap nilai harus diubah. Pendidikan seharusnya berorientasi untuk mengembangkan mata pelajaran dengan nilai yang bagus, bukan fokus untuk menghilangkan nilai yang jelek. Orang tua harus juga berhenti menuntut anak mendapat nilai yang baik. Masyarakat juga harus berhenti menilai anak hanya dari nilai-nilai sekolahnya.

Sekolah seharusnya adalah tempat BELAJAR, bukan ajang kompetisi mengumpulkan poin ujian. Seharusnya anak diajarkan nilai-nilai kolaborasi sejak dini, bukannya menajamkan nilai kompetisi dan individualisme.

Friday, November 22, 2013

Inspiring Graduation Speech Againts Our Education System

Berikut adalah pidato berjudul "Here I Stand" yang disampaikan wisudawan terbaik Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tanggal 25 Juni 2010.

Ada sebuah kisah tentang seorang murid Zen yang masih muda tetapi tekun bertanya kepada gurunya, "Jika saya bekerja sangat keras dan tekun, berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi saya untuk menemukan Zen? Master memikirkan hal ini, kemudian menjawab, "Sepuluh tahun." Murid itu kemudian berkata, "Tapi bagaimana kalau saya bekerja sangat, sangat keras dan benar-benar melatih diri supaya belajar dengan cepat - Berapa lama waktu yang saya butuhkan?" Jawab Guru, "Nah, dua puluh tahun." 

"Tapi, jika saya benar-benar, benar-benar bekerja keras, berapa lama waktu yang saya butuhkan?" tanya si murid."Tiga puluh tahun," jawab sang Guru. "Tapi, saya tidak mengerti," kata murid dengan kecewa. "Setiap saya mengatakan akan bekerja lebih keras, Anda mengatakan bahwa saya akan membutuhkan waktu lebih lama. Mengapa Anda berkata begitu?"
 Jawab Guru,"Bila Anda memiliki satu mata pada tujuan, Anda hanya memiliki satu mata di jalan."

Saturday, February 23, 2013

Embrace Passion and Purpose Driven Life

Belakangan saya sangat tertarik dengan topik-topik mengenai pencarian jati diri. Saya mulai membaca buku-buku seperti "Your Job is not Your Career" dan "Career Snippet" oleh Rene Suhardono, "Passion! Ubah Hobi jadi Duit" oleh Dedy Dahlan (baca review-nya disini), "Follow Your Passion" yang merupakan kisah perjalanan hidup Muadzin F. Jihad (Founder Semerbak Coffee) dalam memenuhi panggilan hatinya menjadi entrepreneur

Saya juga menonton kembali film "3 Idiots" (baca 25 kutipan inspiratif dari film "3 idiots" disini), membaca buku "Life Story not Job Title" (baca review-nya disini) karya Darwin Silalahi, Presiden Direktur PT. Shell Indonesia, yang mengajak kita menjadi pemimpin berlandaskan purpose hidup yang kuat dan memberikan dampak pada kehidupan banyak orang. Terakhir, saya membaca buku "Your Journey to be #The UltimateU", karya anyar Rene Suhardono. 

Semua buku yang saya baca tersebut menekankan kepada kita betapa pentingnya menemukan passion, purpose, value, dan menjadi the ultimate or best version of us. Passion sendiri kurang lebih dapat diartikan sebagai hal yang paling kita senangi atau "what we enjoy the most?" Purpose adalah "what matters most to us?" atau hal yang paling penting bagi kita? Value adalah nilai-nilai yang menjadi prinsip dan kebanggaan diri kita atau "what we believe in life and beyond?"